Tuesday, 21 April 2015

Insiden Terbakarnya F-16 Di Halim Perdanakusuma, TNI AU Makin Minati Sukhoi Su-35

Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35
Insiden terbakarnya F-16 di Landasan Udara Halim Perdanakusuma membuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengkaji ulang kebijakannya mengenai pembelian pesawat bekas. Satuan dengan semboyan Swa Bhuwana Paksa ini tak mau kejadian serupa terulang kembali.

“Kita ada rencana penggantian, dengan kejadian ini sudah jelas menjadi pengalaman dan introspeksi, jangan sampai kita membeli lagi pesawat F-16 bekas,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna saat konferensi pers di Mabes TNI AU, Jakarta, Kamis (16/4).

Atas alasan itu, TNI AU menginginkan dua pesawat baru untuk menggantikan F-5F/E Tiger yang sudah saatnya dipensiunkan. Sedangkan, opsi membeli pesawat bekas tak akan masuk dalam program jangka panjang maupun pendek.

“Dua hasil kajian kita, antara Sukhoi Su-35 dan F-16 tipe 70 Viper,” katanya.

Agus mengharapkan tidak ada lagi pemberian hibah pesawat bekas untuk TNI AU, agar insiden kecelakaan pesawat tak terulang kembali. Namun, dia memastikan program ini tetap berlanjut mengingat TNI AU sudah mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkannya.

“Hibah pesawat F-16 tetap berlanjut Karena ini adalah program, sudah berjalan, sudah kontrak dan sudah kita bayar. Hanya kita akan lebih mengevaluasi dengan ada pengalaman ini,” tukasnya. (Merdeka.com)

F-16 Fighting Falcon Block 52ID Terbakar Di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma

F-16 Fighting Falcon Block 52ID
F-16 Fighting Falcon Block 52ID Terbakar
Petugas menyiramkan cairan ke badan pesawat tempur F16 yang terbakar di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat tempur F16 dengan nomor register TS 1643 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono tersebut gagal tinggal landas (takeoff) dan terbakar sekitar pukul 08.15 WIB. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)★

Sebuah pesawat tempur F-16 Fighting Falcon Block 52ID nomor registrasi TT-1643 mengeluarkan asap hitam saat akan lepas landas dari landas pacu Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, pukul 08.15 WIB hari ini.

"Pilot segera membatalkan lepas landas, mematikan mesin langsung, dan keluar dari kokpit. Pesawat tempur itu segera disemprot pemadam kebakaran. Sekarang sudah ditarik menuju hanggar," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, kepada ANTARA News.

Pilot yang menerbangkan F-16 Fighting Falcon Block 52ID itu adalah Letnan Kolonel Penerbang Firman Dwicahyo. Dia adalah komandan Skuadron Udara 16 TNI AU yang semua armadanya terdiri dari F-16 Block 52ID buatan General Dinamics bekas pakai Korps Udara Garda Nasional (Air National Guard), Amerika Serikat itu.

"Pilot bisa keluar dari kokpit secara selamat, tidak kekurangan apa pun. Saat ini tim penyelidik dan keselamatan penerbangan TNI AU telah melakukan tugasnya,” kata Tjahjadi.

Menurut dia, kondisi F-16 yang gagal lepas landas itu tidak dinyatakan total loss alias tidak sama sekali rusak-hancur.

"Tidak total loss, kokpit pesawat terbang itu utuh demikian juga yang lain. Asap hitam dan percikan api keluar dari ujung knalpot pesawat terbang itu,” kata dia.

F-16 yang terbakar untuk pengamanan KAA
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
F-16 C/D Block 52ID. Semula dia adalah F-16 Block 25 bekas pakai Korps Udara Garda Nasional Amerika Serikat yang dihibahkan kepada Indonesia, yang ditingkatkan menjadi F-16 Block 52ID. Walau hibah, namun Indonesia tetap harus membayar biaya peremajaan 24 unit pesawat tempur bekas ini senilai 700 juta dolar Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)★

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan pesawat tempur F-16 yang terbakar di Halim Perdanakusuma rencananya akan digunakan sebagai armada pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KAA) pada pekan depan.

"Itu benar bahwa pesawat itu untuk keamanan KAA," kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna di Mabes TNI Cilangkap, Kamis.

Akibat terbakarnya pesawat nomor ekor TS-1643 itu, kata Agus, TNI AU akan segara mencari solusi untuk mencari pengganti mengingat perhelatan KAA tinggal menghitung hari.

"Kami akan evaluasi segera untuk mencari penggantinya. Untuk sementara (pesawat F-16) yang dari Pekanbaru akan kami pakai untuk penyelidikan," kata Agus.

Agus mengatakan perawatan pesawat tempur di Angkatan Udara sudah sesuai standar dan terjadwal dengan tertib sehingga TNI AU akan menyelidiki secara mendalam penyebab dari terbakarnya pesawat.

"Usia pesawat F-16 hingga 30 tahun. Contohnya pesawat tahun 1989 masih bagus. Karena sudah terjadwal pemeliharaan," ucap Agus. Di sisi lain, Agus memastikan kondisi pilot sekaligus komandan Skadron 16 Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono hanya mengalami luka ringan dan sedang dirawat di Rumah Sakit Angkatan Udara Esnawan Antariksa Halim Perdanakusuma.

Kronologi F-16 gagal "takeoff"
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
Petugas menyiramkan cairan ke badan pesawat tempur F16 yang terbakar di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat tempur F16 dengan nomor register TS 1643 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono tersebut gagal tinggal landas (takeoff) dan terbakar sekitar pukul 08.15 WIB. (foto: suara.com)★

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna menjelaskan kronologi pesawat F-16 Fighting Falcon Block 52ID nomor registrasi TT-1643 milik TNI Udara yang gagal takeoff di Lanud Halim Perdanakusuma.

"Pada saat pesawat laksanakan rolling takeoff, penerbang melihat ada sesuatu mall function," kata KSAU, saat jumpa pers di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Penerbang Letkol (Pnb) Firman Dwi Cahyono, mengetahui mall function setelah warning light di pesawat menyala. Indikasinya pada sistem hidrolik dan elektrik.

"Penerbang dengan kecepatan untuk takeoff, tetapi belum lepas landas dan laksanakan abort takeoff," ucap KSAU.

Yang terjadi kemudian, diduga ada kebocoran hidrolik sehingga sistem pengereman pesawat tidak maksimal.

"Karena pengereman tidak maksimum, daripada lewat dari runway (landasan lancang), di situ banyak perumahan. Pilot mengambil action memutar kembali," ujarnya, mengungkapkan.

Tetapi lantaran pesawat masih full atau penuh bahan bakar, kemudian terjadi percikan api di mesin, maka terjadi kebakaran.

"Saya menghargai pilot dengan action-nya tidak menimbulkan korban lainnya. Keluar dari pesawat, cedera di tangan dan pundak. Dari penanganan dokter di RS Esnawa Antariksa TNI AU, penerbang sehat walafiat," ujar Agus.

Salah satu dari pesawat F-16 mengalami gagal takeoff saat melaksanakan latihan pengamanan pertahanan udara terkait KTT Asia Afrika.

Pengadaan F-16 Fighting Falcon TNI AU akan ditinjau lagi
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
Sejumlah prajurit TNI AU mengevakuasi badan pesawat tempur F16 yang terbakar di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean )★

Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Agus Supriatna, mengatakan insiden terbakarnya pesawat tempur F-16 karena masalah hidrolik. Pagi ini F-16 Fighting Falcon Block 52ID bernomor registrasi TT-1643 terbakar di landas pacu selatan Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

"Sebelum kejadian, lampu peringatan menyala. Lampu itu diikuti indikator lampu hidrolik dan elektrik yang menyala... kemungkinan ada kebocoran hidrolik sehingga dragshute-nya (parasut mengurangi kecepatan pesawat) tidak bekerja maksimum," kata Supriatna, di Markas Besar TNI AU, Cilangkap, Kamis.

Supriatna menjelaskan, ledakan yang terjadi akibat cadangan bahan bakar dalam pesawat bernomor ekor TT-1643 itu terbakar.

"Namun karena pesawat masih full bahan bakar maka terjadi percikan api," kata dia. TNI AU segera melakukan penyelidikan lebih dalam mengenai penyebab utama pesawat tempur hibah Amerika Serikat bekas pakai Korps Udara Garda Nasional negara itu.

Akibat insiden ini TNI AU akan mengevaluasi rencana penambahan 24 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Amerika Serikat. Pada 1989 TNI AU pertama kali menjadi operator F-16A/B Fighting Falcon Block15 OCU melalui Proyek Peace Bima Sena I.

"Kejadian ini menjadi bahan introspeksi untuk tidak membeli F-16 yang bekas. Namun program 24 penambahan pesawat sejak beberapa tahun yg lalu tetap berjalan," katanya. Indonesia sudah sering "menampung" pesawat-pesawat hibah alias bekas pakai negara-negara sahabat.

F-16 TT-1643 yang terbakar ini hasil pengadaan melalui Proyek Peace Bima Sena II. Pesawat tempur ini semula adalah F-16 Block 25 yang ditingkatkan airframe, mesin, avionika, dan komputernya, di Pangkalan Udara Angkatan Udara AS Hill, Utah. Mereka lalu diberi kode F-16 Fighting Falcon Block 52ID.

Amerika Serikat telah lama tidak lagi menerbangkan Block 25 ini dan ditawarkan kepada TNI AU yang lalu menyambutnya.

Pada sisi lain, dia memastikan kondisi pilot pesawat sekaligus komandan Skauadron Udara 16 TNI AU, Letnan Kolonel Penerbang Firman Dwi Cahyono, luka ringan dan sedang di rawat di RS TNI AU Esnawan Antariksa Halim Perdanakusuma.

"Alhamdulillah, penanganannya cepat sehingga penerbang sudah cukup sehat," kata Supriatna.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara puji pilot F-16
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
F-16 Fighting Falcon Block 52ID
Badan pesawat tempur F16 yang terbakar diangkat menggunakan alat berat di ujung landasan pacu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (16/4). Pesawat tempur F16 dengan nomor register TS 1643 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono tersebut gagal tinggal landas dan terbakar sekitar pukul 08.15 WIB. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)★

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna memuji aksi Letkol Penerbang Firman Dwi Cahyono, pilot F-16 Fighting Falcon bernomor registrasi TS-1643 yang terbakar pada pukul 18.10 WIB di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

"Saya memuji pilot dengan aksinya yang tidak menyebabkan korban yang besar," katanya di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Agus Supriatna mengatakan pilot sekaligus sekaligus komandan Skuadron Udara 16 TNI AU, Letnan Kolonel Penerbang Firman Dwi Cahyono, sudah mengambil langkah tepat dengan memutar kembali dan tidak memaksakan terbang.

"(Tidak jauh dari lokasi) banyak hunian dan rumah penduduk, penerbang mengambil langkah tepat dengan memutar kembali pesawat itu," kata Agus Supriatna.

Agus Supriatna menjelaskan Firman Dwi Cahyono merupakan salah satu murid terbaiknya di Skuadron Udara Yogyakarta.

"Letkol Penerbang Firman itu murid saya ketika saya menjadi komandan Skuadron di Yogyakarta. Dia kedua yang terbaik," katanya.

Ia mengatakan Firman yang selamat tanpa mengalami cedera serius dan tidak adanya korban jiwa akibat insiden itu merupakan bukti kematangan seorang pilot berpengalaman.

Pesawat tempur F-16 Fighting Falcon terbakar pukul 18.10 WIB di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, diduga karena masalah hidrolik. Akibat kejadian itu pilot mengalami luka bakar di lengan kiri. (antaranews.com)

Sistem Misil Balistik Iskander-M Buatan Rusia Akan Di Ekspor Ke Pasar Global


Iskander-M
Peluncur Rudal Balistik Rusia Iskander-M
Eksportir utama senjata Rusia Rosoboronexport siap menjual sistem misil balistik taktis Iskander ke luar negeri setelah memenuhi seluruh pesanan negara, demikian disampaikan seorang spesialis dari perusahaan perancang Iskander-E pada TASS di LAAD 2015 Defense and Security International Exhibition.

“Setelah memenuhi pesanan negara, kami siap merambah ke pasar global,” kata perwakilan dari Vysokotochnye Kompleksy Holding, yang bekerja sama dengan Kolomenskoye Mechanical Engineering Design Bureau (KBM) dalam merancang versi modifikasi ekspor senjata ini.

Ia menyebutkan beberapa negara telah memperlihatkan ketertarikan untuk membeli sistem misil ini dan Rosoboronexport saat ini sedang menyusun proposal penjualan untuk salah satu dari negara tersebut. Jika proposal tersebut disetujui, Rosoboronexport akan segera menandatangani kontrak, kata sang spesialis.

Direktur Pelaksana dan Desainer Umum KBM Valery Kashin sebelumnya menyebutkan ketika pesanan dari dalam negeri cenderung kecil, KBM melakukan usaha pemasaran aktif, bahkan mempersiapkan kontrak melalui Rosoboronexport untuk menjual Iskander pada pembeli asing. Namun, kesepakatan tersebut tak ditandatangani untuk alasan politis.

Kashin menyebutkan bahwa perusahaan menghentikan upaya untuk menjual misil tersebut di pasar global setelah menerima kontrak jangka panjang dari Kementerian Pertahanan Rusia yang jumlah pesanannya ditingkatkan empat hingga lima kali lipat.

Menurut keterangan Kashin, calon pembeli asing meminta pasokan Iskander paling cepat 2015.

“Kini, ketika kami telah memproduksi sistem misil dalam jumlah yang dibutuhkan, kami kembali melakukan upaya untuk mengekspor misil ini bersama Rosoboronexport,” ujar Kashin dan menyebutkan bahwa mereka telah memiliki beberapa proposal. (rbth.com)

Eurofighter Berencana Bangun Basis Produksi Jet Tempur Di Indonesia


Eurofighter Typhoon
Pesawat Tempur Eurofighter Typhoon Buatan Eropa Barat
Eurofighter Tawarkan Berbagai Kemudahan Kepada Indonesia

ANGKASA.CO.ID - Konsorsium produsen jet tempur Eropa, Eurofighter, menawarkan berbagai kemudahan kepada Indonesia terkait tawaran penjualan jet tempur unggulan mereka Eurofighter Typhoon. Tim Eurofighter kembali hadir di Jakarta dan menyelenggarakan “MasterClass Fighter Jet” bagi sejumlah media di Jakarta, Selasa (14/4/2015), setelah sebelumnya hadir dalam ajang Indo Defence, November tahun lalu.

Head of Industrial Offset Eurofighter, Martin Elbourne, menyatakan, Eurofighter memberikan keleluasaan kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai mitra kerja untuk melaksanakan perakitan penuh jet tempur Typhoon di Indonesia. Ia bahkan menyampaikan ide seandainya Indonesia tertarik untuk membuat tangki bahan bakar konformal (CFT) bila itu diperlukan oleh Indonesia untuk memperbesar jangkauan terbang Typhoon. “Kami tawarkan bila Indonesia merasa perlu untuk membuat CFT bagi Typhoon sehubungan wilayah Indonesia yang sangat luas. Nantinya CFT ini bisa dipakai khusus untuk Typhoon Indonesia atau dijual kepada para pengguna Typhoon di negara lainnya,” ujar Elbourne. “Tidak hanya CFT, komponen lain pun, sayap misalnya, bila Indonesia merasa perlu untuk membuatnya maka akan kami berikan keleluasaan,” tambahnya lagi.

Ofset dan transfer teknologi yang akan diterima Indonesia bila membeli Typhoon, lanjut Elbourne, merupakan kompensasi yang akan diberikan Eurofighter. Eurofighter mengutamakan visi jangka panjang dalam hubungan ini yang akan menguntungkan Indonesia dalam penyerapan teknologi, investasi infrastruktur, dan sumber daya manusia. Selain dapat melaksanakan perakitan penuh, Indonesia juga berhak melakukan integrasi sistem, uji terbang, dan pengujian lainnya. Pilot Indonesia pun bisa dididik menjadi pilot uji Typhoon.
Eurofighter Typhoon
Eurofighter Typhoon
Dalam kesempatan tersebut, Paul Smith, pilot uji dan instruktur Typhoon, turut membeberkan berbagai keunggulan jet tempur swing-role Typhoon yang sudah digunakan oleh tujuh operator di dunia dengan produksi pesawat hingga saat ini mencapai 427 unit. Beberapa keunggulan Typhoon antara lain angka Thrust to Weight Ratio yang tinggi, wing loading yang rendah, dan kemampuan bawa beragam senjata modern di 13 cantelan senjatanya. Typhoon juga memiliki kemampuan super cruise yang sangat berguna dalam melaksanakan misi pertempuran udara maupun misi lainnya. “Dengan berbagai parameter yang dimilikinya, Typhoon merupakan jet tempur yang andal baik untuk pertempuran jarak jauh (BVR) maupun jarak dekat,” ujarnya. “Pesawat ini memiliki kemampuan menanjak dan akselerasi kecepatan yang sangat mengagumkan,” tambahnya.

Di medan pertempuran, Typhoon juga sudah menunjukkan kiprahnya sehingga dapat dicap combat proven. Antara lain dalam misi serangan darat di Libya (2011) serta di Yaman baru-baru ini. Typhoon juga dapat berbangga diri karena sudah mampu mengalahkan F-22 Raptor dalam latihan Red Flag beberapa waktu lalu. Paul Smith menunjukkan tanda “Raptor Killer” yang dibubuhkan di badan salah satu Typhoon dalam slide paparannya.

Joe Parker, Direktur Ekspor Eurofighter, menyatakan, dari sisi pengoperasian hingga saat ini Typhoon telah membukukan 500.000 jam terbang untuk penggunaan mesinnya dan belum ditemukan kegagalan dalam pengoperasiannya tersebut. Dengan demikian tidak mengherankan bila ia menyebut kesiapan Typhoon dalam pengoperasiannya mencapai angka 95% dengan cost reduction 20% setelah penggunaan 500 jam terbang.

Parker juga menandaskan, dengan Indonesia membeli Typhoon, maka kerja sama kemitraan produksi antara Eurofighter dengan PTDI akan meneruskan sejarah kemitraan Airbus dengan PT DI yang ditandai dengan produksi bersama NC212 (1976), CN235 (1983), CN95 (2011), dan Eurofighter Typhoon yang diprediksi dapat dimulai tahun 2018. “Kerja sama produksi Typhoon antara Eurofighter dengan PTDI akan menguntungkan Indonesia sebagai fondasi untuk membuat jet tempur mandiri, kemampuan pemeliharaan dalam negeri, dan pengembangan lainnya,” tegasnya. Sebagaimana diketahui Airbus Defence and Space memiliki saham 46 persen di konsorsium Eurofighter.
Eurofighter Typhoon
Eurofighter Typhoon
Tim Eurofighter menganggap tepat bila Indonesia membeli jet tempur Typhoon yang ditenagai dua mesin EJ200 ini untuk kebutuhan masa kini dan yang akan datang. Dikatakan, jet tempur Typhoon mampu memenuhi kebutuhan TNI Angkatan Udara akan pesawat superioritas udara, pencegat, dan pengaman kemaritiman. (Angkasa)

RI Bakal Jadi Basis Produksi Jet Tempur 'Typhoon' Setelah Eropa

Jakarta -Typhoon adalah jet tempur generasi 4.5 andalan dari Angkatan Udara negara-negara maju di Eropa hingga Timur Tengah. Jet tempur tersebut diproduksi oleh Eurofighter. Basis produksi Eurofighter terletak di 4 negara, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Empat negara tersebut terlibat dalam produksi komponen utama pesawat, serta memiliki fasilitas assembly line atau perakitan akhir. Terakhir, Eurofighter berencana melebarkan sayap produksi di luar Eropa. Perusahaan yang terafiliasi dengan Airbus Group ini, berencana membuka fasilitas assembly line di Indonesia.

Bila rencana ini berjalan mulus, maka Indonesia akan menjadi negara kelima, di luar Eropa, sebagai basis produksi jet tempur yang sukses pada misi di Libya tersebut.

"Indonesia akan menjadi basis produksi yang kelima," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne saat berbincang di Jakarta, Rabu (15/4/2015).

Tahap awal bila militer Indonesia membeli jet tempur Typhoon, maka Eurofighter bisa memulai program transfer teknologi. Eurofighter akan menggandeng produsen pesawat asal Indonesia yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
Eurofighter Typhoon
Eurofighter Typhoon
Selanjutnya, para insinyur atau mekanik pesawat asal Bandung, Jawa Barat, akan dilatih dan terlibat dalam proses pengembangan dan produksi jet tempur Typhoon di Spanyol. Di sana, mereka dilatih selama 2 hingga 3 tahun. "Kita ajak engineer PTDI untuk untuk ambil bagian di Eropa," ujarnya

Selanjutnya ialah, para insinyur PTDI bersama ahli pesawat asal Spanyol bakal kembali ke tanah air untuk memulai proses produksi. Secara bertahap fasilitas produksi dan perakitan pesawat Typhoon di Spanyol bakal diboyong ke Indonesia. "Selanjutnya final assembly akan dibawa ke Bandung," ceritanya.

Tahap awal, basis produksi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan jet tempur Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setelah itu, pabrik pesawat di Indonesia bisa mengekspor jet tempur ke luar tanah air seperti yang dilakukan pada program pesawat angkut baling-baling tipe CN 235 dan NC 212.

"Pertama untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia kemudian baru untuk dijual ke luar," tuturnya.

Martin menegaskan, rencana Eurofighter di Indonesia tidak akan mengganggu program pengembangan jet tempur antara Indonesia dan Korea Selatan yang bernama program jet tempur KFX/IFX. Justru dengan kerjasama ini, Eurofighter bisa membantu di dalam meningkatkan kemampuan para insinyur pesawat Indonesia untuk merancang hingga memproduksi jet tempur secara mandiri.

"Kita latih untuk kembangkan pesawat tempur karena sekarang Indonesia belum punya," sebutnya. (angkasa.co.id, detik.com)

Harga Lebih Murah, TNI AU Tertarik Dengan Pesawat Tempur Sukhoi Su-35

Sukhoi Su-35 multirole
Sukhoi Su-35 multirole Buatan Rusia
Indonesia telah mengincar harga murah pesawat Sukhoi SU-35 untuk menggantikan F-5 Tigers.

Kepala United Aircraft Corporation (UAC) Yuri Slyusar mengatakan kepada Interfax di Kota Ho Chi Minh pada Selasa, menyatakan bahwa Indonesia tertarik untuk membeli pesawat ini. Negosiasi awal telah dimulai.

Kantor berita Antara melaporkan pada bulan Februari bahwa Angkatan Udara Indonesia ingin mengganti pesawat F5 yang menua dengan pesawat tempur Sukhoi Su-35 multirole dari Rusia.

Mengutip Marsekal Agus Supriatna bahwa Sukhoi Su-35 sepenuhnya memenuhi permintaan Angkatan Udara Indonesia untuk pesawat tempur garis depan. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa ia tidak mengharapkan teknisi Indonesia memiliki masalah pelayanan pesawat tersebut.

Sukhoi Su-35 saat ini beroperasi di Angkatan Udara Rusia. Pesawat tempur bermesin ganda yang merupakan turunan lanjutan dari pesawat asli Su-27 era Soviet mampu terbang yang tinggi, cepat dan membawa sebuah senjata yang sangat besar dan sensor payload. Biaya pesawat sekitar $ 65.000.000 dibandingkan dengan Eurofighter dan Dassault Rafale lebih murah hampir tiga kali lebih.

Saat ini, Indonesia mengoperasikan dua jenis Sukhoi jet, Su-27 dan Su-30 MK2.(defenseworld)

Saturday, 11 April 2015

PT TES Kembangkan Berbagai Simulator Berkelas Dunia

Simulator Buatan PT Technology and Engineering Simulation (TES)
Simulator Buatan PT Technology and Engineering Simulation (TES)
Bandung (MI) : Industri pertahanan dalam negeri semakin berkembang dan dapat diandalkan untuk TNI. Tak kalah dengan BUMN seperti PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia, sebuah Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) di pinggiran Kota Bandung tak bisa dilihat sebelah mata.

Terletak di atas bukit yang berada di Lembang tepatnya di Desa Mekar Wangi, Bandung Barat, PT Technology and Engineering Simulation (TES) berhasil menciptakan berbagai simulator untuk kendaraan militer. Seperti simulator pesawat, kendaraan tempur, maupun helikopter.

"Dari komponen sampai doktrin militer semua kita bangun sendiri. Kita semua kerjakan di sini," ungkap Direktur Utama TES Muhammad Mulia Tirtosudiro saat ditemui di kantornya, Kamis (9/4/2015).

Industri pertahanan milik TES ini tak bisa dibilang kecil. Mulia mendirikan sebuah kawasan di atas bukit 6 hektar untuk menghasilkan simulator-simulator yang berguna bagi dunia militer. Simulator yang telah berhasil dibuat oleh perusahaan ini seperti fight full mission simulator.
Simulator Buatan PT Technology and Engineering Simulation (TES)
Simulator Buatan PT Technology and Engineering Simulation (TES)
Simulator dibuat sedemikian rupa agar dapat merepresentasikan bentuk pesawat ataupun kendaraan militer. Dengan demikian pilot tidak harus selalu terbang saat latihan. Komponen dari FMS terdiri dari software seperti navigasi radio, visual database, termasuk intruktur sistem operasi pesawat.

Mulai dari perancangan hingga pembangunan simulator dilakukan di kawasan PT TES. Simulator juga dilengkapi dengan sistem motion sehingga siapapun yang menggunakan simulator tersebut akan merasakan seperti benar-benar sedang menerbangkan pesawat.

Menurut Mulia yang merupakan jebolan PT Dirgantara Indonesia itu, TES sudah berdiri sejak 2004. Pasalnya masuk dalam industri pertahanan dalam negeri tidaklah mudah.


 "Kita nggak bisa langsung jual di Indonesia, bangsa kita sudah terbiasa lihat barang luar, karena barang bule dianggapnya keren. Yg lokal susah diapresiasi. Awal-awal kita menjual product kita ke Kemhan untuk TNI lewat Taipei-taipei dulu lah, nggak langsung atas nama kita. Nggak apa-apa, yang penting bisa menunjukkan kemampuan kami dulu," jelas Mulia.

Di tahun 2007, TES di bawah sub-contract berhasil mengerjakan upgrade Fighter FMS untuk militer Pesawat Hawk Malaysia. Setelah itu barulah kemudian pemerintah melirik hasil karya TES untuk digunakan bagi militer Indonesia.

"Saya ingin berterima kasih kepada pemerintah sejak era Pak SBY dan berlanjut ke pak Jokowi, Kemenhan memberikan dorongan terhadap industri pertahanan lokal. Ada UU nya kan kalau produk bisa dibuat di dalam negeri itu bisa dibuat oleh industri lokal. Itu kami rasakan," ucap Mulia.

"Untuk Malaysia kita upgrade simulator Hawk di Penang, perbaikan simulator CN-235 di Kuching, dan meneruskan design dan manufacturing simulator Tank ACV 300 Tank, ada 1 set 5 buah di Kuantan," jelas Project Engineer TES M Taufik Tirtosudiro di lokasi yang sama.
Simulator Buatan PT Technology and Engineering Simulation (TES)
Simulator Buatan PT Technology and Engineering Simulation (TES)
Untuk dalam negeri sendiri, TES telah mengupgrade simulator Pesawat Hawk TNI AU yang ada di Pekanbaru. Selain itu, TES bekerja sama dengan perusahan lain membantu pembuatan software, visual, dan audio untuk Helikopter Super Puma TNI AU di Bogor. Selain itu, TNI AD kini menggunakan simulator Heli Bell bagi Pusat pendidikan Penerbad di Semarang.

"Kita sekarang sedang garap simulator untuk (pesawat tempur) F-16 dan Penjajakan local content untuk Sukhoi," tutur Taufik.

Untuk TNI AL, TES juga sedang mengerjakan simulator bagi pesawat anti kapal selam. Di luar simulator, di bawah payung Technology and Engineering System, perusahaan ini banyak memberikan sumbangsih kepada negara.

TES telah melakukan upgrade hampir di semua early warning radar di Indonesia dari yang sebelumnya hanya analog, kini sudah beralih ke digital. Itu sesuai dengan perkembangan doktrin militer TNI. Di luar bidang militer, TES melakukan rehabilitasi terhadap instrumen pembangkit listrik milik PLN yang sudah tua agar bisa berumur lebih panjang lagi. (detik.com)

PT TES Ciptakan Simulator Multiranpur Untuk Tank


Simulator Multiranpur Tank
Simulator Multiranpur Tank
Bandung (MI) : Berbagai simulator untuk pesawat dan kendaraan tempur diproduksi oleh PT Technology and Engineering Simulation (TES). Salah satu yang cukup menarik ialah sebuah simulator yang dapat digunakan untuk beberapa jenis kendaraan tempur.

Adapun jenis simulator ini merupakan pesanan dari Pusat Pendidikan Kavaleri TNI AD. Tidak seperti simulator pada umumnya di mana 1 simulator adalah untuk 1 jenis alat, simulator Multiranpur bisa diganti-ganti.

"Kita sedang membangun Multiranpur, proyek 3 tahun mudah-mudahan bisa selesai tahun ini. Ini cukup unik, untuk menghemat karena bisa diganti-ganti 3 jenis tank," ungkap Direktur Utama PT TES M. Mulia Tirtusudiro di kantornya, Desa Mekar Wangi, Lembang, Bandung Barat, Jabar, Kamis (9/4/2015).
Simulator Multiranpur
Simulator Multiranpur
Multiranpur dapat diganti-ganti bagian kabinnya untuk simulator tank Scorpion, tank Stormer, dan tank AMX. Ke depan, TES pun akan mengembangkan untuk membuat kabin main battle tank Leopard.

Dengan efisiensi seperti itu, artinya pemerintah dapat menghemat biaya yang cukup besar. Pasalnya untuk pembuatan satu simulator harganya terbilang tidak murah.

"Simulator dirancang untuk berumur 20 tahun. Harganya mendekati harga pesawat, tergantung konfigurasi. Kalau di dunia di atas harga alutsista yang dibeli harganya. Kalo kita hampir mendekati aslinya," jelas Business Development Manager PT TES, M Iqbal Tirtusudiro di lokasi yang sama.

Simulator Multiranpur merupakan simulator satu-satunya di dunia yang bisa diganti-ganti untuk beberapa jenis ranpur. Iqbal pun yang simulator-simulator buatan TES dapat bersaing dengan produk buatan luar negeri, terutama staf dari PT TES sendiri yang masih muda-muda dan memiliki banyak potensi.

 "Sebenarnya bisa saja bersaing, di bagian nilai simulator keakuratan dan simulator data paket. Di dunia banyak source jadi nggak harus mesen satu negara terbuka luas. Biasa kerjasama antar perusahaan. Prinsip kita ingin menjaga kompetensi teknis. Perlu barang apa, kalau program kita bisa bikin. Yang jelas kalau dibikin pemerintah kita sangat senang," kata Iqbal.

"Kita unggulnya simulation software dikuasi. Jadi mau pake modul Korea jadi bisa, tergantung kesepakatan. Kita 90 persen buatan lokal. Software, model matematik, koneksi antar software, visual database. Sudah bisa dan siap bersaing," sambung lulusan ITB tersebut.

Simulator Multirampur dibangun di Pusat Pendidikan Kavaleri di Padalarang, Bandung, dalam 3 tahap. Tahap pertama adalah untuk Scorpion, tahap kedua untuk Stormer, dan yang saat ini sedang dalam proses penyelesain adalah kabin untuk tank AMX.

Perancang simulator ini ternyata datang langsung dari Puslitbang TNI AD. Dalam pembuatannya, PT TES membutuhkan waktu 4 tahun di mana satu tahun khusus untuk membuat konsepnya. Taiwan disebut sedang melakukan negoisasi untuk pembuatan simulator Multiranpur ini.

"Ya sedang negoisasi. Mungkin Konsepnya sama, tapi visualnya beda. Karena harus dibedakan untuk dalam negeri sama luar," terang Business Development PT TES, Gerald S Manurung menambahkan.

Sejumlah simulator telah berhasil dikembangkan oleh perusahan ini. Seperti simulator Hawk untuk Malaysia dan TNI AU. Simulator CN-235 untuk Malaysia, simulator tank ACV 300 5 buah untuk Malaysia. Simulator untuk TNI AU lainnya yang telah dibuat PT TES adalah Super Puma, Heli Bell.

Sementara yang masih dalam pengembangan adalah Multiranpur, simulator F-16, dan simulator pesawat anti kapal perang untuk TNI AL. PT TES juga sedang melakukan penjajakan local content untuk pembuatan simulator Sukhoi.

"Sebenarnya yang paling utama dalam pembuatan simulator adalah membuat modelnya atau softwarenya untuk bisa merepresentasikan seperti alutsista sebenernya," tutup Gerald. (detik.com)